Kalau mengingat kehidupan Klepu ketika aku masih kecil, kehidupan beragama pada waktu itu tentu sangat berbeda dengan yang kita rasakan sekarang.
Klepu bukanlah kampung pesantren. Pengetahuan tentang agama Islam masih terbatas. Di sekolah, pelajaran agama hanya kami terima seminggu sekali, setiap hari Jumat, kurang lebih satu jam.
Belum banyak warga yang memiliki pengetahuan agama secara mendalam. Tetapi kehidupan masyarakat tetap berjalan dengan nilai-nilai yang mereka yakini dan warisi dari orang tua serta lingkungan.
Pada masa itu, belum ada masjid, mushola, ataupun langgar di Klepu.
Ketika bulan Ramadan tiba, shalat Tarawih dilakukan secara bergiliran di rumah-rumah warga yang memiliki ruang cukup luas. Rumah satu warga bisa digunakan malam ini, kemudian bergantian di rumah warga lainnya.
Kesederhanaan seperti itu justru membuat suasana Ramadan terasa sangat dekat.
Setelah sahur, kami sering pergi bersama-sama ke Ngledok untuk mandi.
Pada masa itu, anak-anak dan remaja hidup dalam lingkungan yang sederhana. Kami belum mengenal banyak hal seperti yang mudah ditemui anak-anak sekarang. Kehidupan kami masih sangat dekat dengan alam, dengan tetangga, dan dengan kebiasaan yang diwariskan oleh orang-orang tua.
Namun kehidupan Klepu pada waktu itu juga masih sangat kuat dipengaruhi oleh budaya Jawa dan tradisi leluhur.
Di beberapa tempat, terutama ketika berada di makam, masih ada kebiasaan membakar kemenyan. Cara pandang masyarakat terhadap kehidupan dan kematian pun masih sangat dipengaruhi oleh tradisi yang telah diwariskan turun-temurun.
Ketika ada orang sakit, sebagian masyarakat juga masih mencari orang pintar untuk meminta bantuan.
Kadang-kadang, hal seperti itu bahkan dapat menimbulkan persoalan. Ada orang yang kemudian menuduh bahwa sakitnya seseorang disebabkan oleh perbuatan orang lain atau karena sesuatu yang bersifat gaib.
Sebagai seorang anak, tentu aku hanya melihat dan mengingat semua itu sebagai bagian dari kehidupan masyarakat pada masa tersebut.
Ada pula tradisi ketika berlangsung acara-acara besar. Pohon-pohon besar yang dianggap memiliki nilai tertentu terkadang dihiasi dengan panjang ilang dari janur.
Itulah suasana kehidupan Klepu yang aku kenal ketika masih kecil.
Islam ada, tetapi pengetahuan agama kami masih sangat terbatas. Tradisi Jawa juga masih sangat kuat. Keduanya berjalan berdampingan dalam kehidupan masyarakat.
Ketika Ramadan tiba, sebagian besar yang berpuasa biasanya adalah anak-anak usia sekolah. Orang-orang yang lebih tua banyak yang belum menjalankannya secara rutin, meskipun tentu ada juga beberapa orang yang melaksanakan puasa.
Kalau sekarang aku melihat kembali masa itu, aku tidak ingin menghakimi bagaimana kehidupan masyarakat dahulu.
Aku justru melihatnya sebagai sebuah perjalanan.
Dari pengetahuan agama yang masih terbatas, dari kehidupan yang sederhana, dari tradisi yang begitu kuat, perlahan masyarakat terus belajar dan berubah.
Dan perubahan itu juga menjadi bagian dari perjalanan Klepu.
Kini kehidupan beragama sudah jauh berkembang. Akses terhadap ilmu agama semakin mudah. Masjid dan tempat ibadah semakin tersedia. Anak-anak dapat belajar agama dari berbagai sumber.
Namun menurutku, ada satu hal yang jauh lebih penting daripada sekadar bertambahnya pengetahuan.
Agama bukan hanya untuk diketahui dan dipahami, tetapi juga untuk dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Bagaimana kita menghormati tetangga.
Bagaimana kita membantu orang yang membutuhkan.
Bagaimana kita menjaga perkataan.
Bagaimana kita tidak menyakiti orang lain.
Bagaimana kita hidup rukun meskipun memiliki perbedaan.
Karena pada akhirnya, keberagamaan yang baik bukan hanya terlihat dari seberapa banyak yang kita ketahui, tetapi dari seberapa nyata nilai-nilai kebaikan itu kita jalankan dalam kehidupan.
Dan mungkin, inilah salah satu harapan terbesarku untuk Klepu ke depan:
Semoga Klepu semakin religius.
Bukan hanya semakin banyak pengetahuan tentang Islam.
Bukan hanya semakin banyak orang memahami ajaran agama.
Tetapi semakin banyak pula praktek nyata dalam keseharian, terutama dalam bertetangga, bermasyarakat, saling menghargai, saling membantu, dan menjaga kerukunan.
Karena agama yang hidup bukan hanya berada di dalam pengetahuan dan pemahaman, tetapi hadir dalam sikap dan perbuatan kita setiap hari.